Quotes of the day
Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.
Markus 5:34
The key is not to prioritize what is on the schedule, but to schedule your priorities.
Stephen Covey
There is no way around it. You absolutely must have fun. Without fun, there is no enthusiasm. Without enthusiasm, there is no energy. Without energy, there are only shades of gray.
Doug Hall
Siapa itu Malaikat?
Taken from Gereja Katolik’s Notes on Facebook:
Tuhan menciptakan segala yang ada dari yang tidak ada dengan ke-MahaKuasaan-Nya dan Kasih-Nya untuk Ciptaan-Nya. Ia menjadikan segala sesuatu, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Semua makhluk hidup di bumi yang bergerak yang diciptakan oleh Tuhan mempunyai ‘jiwa’, yang merupakan intisari dari tubuh ragawi mereka. Oleh karena itu tubuh menjadi musnah jika jiwa sudah tidak tinggal lagi di dalamnya.
Tuhan juga menciptakan para malaikat. Mereka adalah makhluk rohani, artinya mereka tidak memiliki tubuh ragawi: tidak memiliki daging atau darah. Malaikat tidak dilahirkan, tetapi diciptakan Allah. Karena tidak memiliki tubuh, maka mereka tidak menjadi tua dan mati.Malaikat memiliki kehendak dan budi. Sama seperti kita, para malaikat juga menerima rahmat dan kasih Tuhan. Tetapi, karena malaikat tidak mempunyai tubuh ragawi dan tidak tumbuh dan berkembang, tanggapan mereka atas kasih Tuhan juga tidak memerlukan waktu dan refleksi agar dapat tumbuh dan berkembang. Bagi mereka, keputusan untuk mengikuti Tuhan dan mentaati-Nya ditetapkan satu kali untuk selamanya.
Tuhan amat mengasihi manusia dan Ia memberikan kepada manusia sekaligus jiwa dan roh! Sama seperti para malaikat, kita juga mempunyai kebebasan untuk mengikuti Tuhan dan mentaati-Nya. Tetapi karena kita memiliki tubuh ragawi, kita tumbuh dan berkembang; kita belajar sementara kita tumbuh dewasa. Oleh karena itu kita juga bertumbuh setiap hari dalam menentukan pilihan untuk mencintai dan melayani Tuhan.
Malaikat diciptakan Tuhan untuk menjadi utusan-Nya. Kata ‘Malaikat’ berasal dari kata MALACH, yaitu bahasa Ibrani yang berarti utusan. Dalam bahasa Inggris kita menyebutnya ‘Angel’ yang diambil dari kata ANGELOS, bahasa Yunani yang juga berarti utusan. Sesuai dengan namanya, para malaikat bertugas membawa pesan dan misi dari Tuhan. Tuhan mengutus para malaikat untuk menyatakan kehendak-Nya, untuk membimbing, mengajar, menegur serta menghibur umat-Nya. Kita dapat menemukan dalam Kitab Suci bagaimana para malaikat tampil sebagai utusan Tuhan, mulai dari Kitab Kejadian dan sepanjang sejarah bangsa pilihan Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, kita juga mengenal para malaikat lewat ajaran-ajaran Yesus sendiri.
Ada malaikat yang baik yang mengikuti dan mentaati Tuhan. Ada juga malaikat yang karena kesombongannya menolak untuk taat kepada perintah Tuhan. Mereka ingin menggunakan kekuatannya untuk kepentingan mereka sendiri. Para malaikat yang memberontak ini kita sebut setan atau iblis. Raja para iblis ialah Lucifer. Kesombongan setan menciptakan neraka. Di neraka tidak ada Tuhan dan dengan demikian untuk selamanya tidak ada harapan untuk memperoleh keselamatan.Kita tidak tahu seperti apa para malaikat itu ketika mereka berada disekeliling Tahta Allah. Atau bahkan apakah mereka punya penampilan, mengingat mereka adalah makhluk rohani. Penampilan mereka di bumi tentulah amat menggentarkan dan menakjubkan. Banyak kali disebutkan dalam Kitab Suci bahwa kata-kata pertama mereka adalah “Jangan takut.”
“Kalian harus tahu bahwa kata `malaikat’ lebih mengacu pada jabatan, bukan kodrat. Makhluk surgawi ini selalu berupa roh. Mereka hanya dapat disebut malaikat jika mereka menyampaikan pesan. Para malaikat yang menyampaikan pesan-pesan yang tahap kepentingannya tidak terlalu tinggi disebut malaikat; dan mereka yang menyampaikan pesan-pesan yang sunguh amat penting kita sebut malaikat agung.” ~ homili Paus St. Gregorius Agung
Sumber: 1. Catherine Fournier; Domestic Church Communications Ltd.; www.domestic-church.com; 2. James Kiefer’s Christian Biographies
chatting with PanDa
Kemaren chatting sama Pa nDaru.. jadi inget kalo punya website ga pernah diupdate.. hehehe… maklum lah gara2 repot ngurusi kerjaan orang yang melenceng jauh dari lahanku..
Ternyata ada toh sing mbaca site ini? kaget juga.. Wong blog ini sebenernya ditulis cuma buat iseng, daripada ada domain nganggur yang cuma dipake gara2 butuh emailnya (account online bekas masa jaya di internet dulu smua connect ke ……….@ang3l4u.com soalnya). Yah.. paling ga sekarang aku tau ada 3 org yg pernah buka website ini.. hahaha.. (melas banget.. mosok website sing mbuka cuma 3 org)…
Wis lah.. post ini cuma di post supaya ada update aja, drpd last updatenya bbrp bulan lalu, lak kayak site mati ntar..
PS. soal nggemesin, kayak e pak Daru ma Esha jauh lebih nggemesin deh?
why?
Question of the day…
kenapa mesti boongin aku?
if you want it, just let me know… it will be hard to accept it, but I’ll understand eventually… as long as you’re happy…
….because I love you…
Membeli Waktu
Taken from Pak Vinardo’s note in Facebook.
Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.
Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat kekantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang.Sebab
aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,- Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja.Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan Menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.
Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini?
Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”
“Tapi, Ayah…”
Kesabaran Rudi habis. “Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu,
Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini?
Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”
“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada
Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.author: unknown
Pencobaan
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
1 Korintus 10:13
Anak
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak
mereka yang berusia 6 tahun.Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh kebawah.
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.”
Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil disudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring,keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan disudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
Source: net (thanks for the author whom I don’t know)
Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri
Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin
Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.source: net
Thanks Dad, Mom for being a great parent…. Get well soon Dad…
Hari Komunikasi Sosial Gereja Sedunia
Hari Minggu kemarin adalah hari komunikasi sosial yang dirayakan gereja di seluruh dunia. Waktu misa, Romo sempat kasih cerita singkat waktu homili:
Ada seorang anak naik bis dari Surabaya jurusan ke Bali sendirian. Ibunya berpesan kepada supir bis tersebut, menitipkan anaknya.
“Pak, anak saya tolong dijaga. Nanti kalau sudah sampai banyuwangi tolong anak saya diberitahu.”Beberapa menit setelah bis berangkat, anak itu tanya kepada penumpang di sebelahnya. “Bu, sudah sampai Banyuwangi?” jawab ibu itu “belum, masih jauh.”
Tidak percaya kepada ibu itu, semenit kemudian dia bertanya kepada penumpang di depannya, “Pak, sudah sampai Banyuwangi?” jawab bapak itu: “belum, masih jauh nak..”
Masih tidak percaya, beberapa menit kemudian anak itu maju dan tanya kepada si supir, “Pak, sudah sampai Banyuwangi?” jawab supir itu: “belum nak, masih jauh.. sekarang tidur dulu, nanti kalau sudah sampai bapak bangunin”
Akhirnya anak itu tidur. Setelah beberapa lama, di pelabuhan Gilimanuk (Bali), sang supir baru ingat kalau dititipi anak kecil. Dia bertanya pada para penumpangnya: “Tadi saya dititipi anak kecil, ibunya bilang suruh kasih tau dia kalau sudah sampai Banyuwangi. Bapak2, ibu2 ditanyai anak itu juga kan tadi?”
Banyak yang menjawab iya, dan mengaku lupa kalau anak itu mau ke Banyuwangi. Akhirnya pak supir tersebut tanya “Apa kita perlu kembali untuk antar anak ini ke Banyuwangi? Saya sudah dititipi ibunya”. Penumpang lain setuju juga karena mereka juga merasa bersalah karena lupa memberi tahu kalau sudah sampai Banyuwangi.
Akhirnya bis itu kembali ke feri dan menyebrang ke Banyuwangi. Sesampainya di Banyuwangi, si supir membangunkan anak itu. “Nak, sudah sampai Banyuwangi, kamu turun di Banyuwangi toh?”
Anak itu terbangun lalu bertanya: “Oh, sudah sampai Banyuwangi ya Pak?” jawab supir itu “Iya, tadi ibumu titip ke Bapak suruh kasih tau kalau sudah sampai Banyuwangi. Sekarang sudah sampai Nak”.
“Iya, tadi ibu bilang, kalau sudah sampai Banyuwangi bekalnya boleh dimakan”
Komunikasi itu penting!!
Kalo ga tau, tanya..
Kalo ga jelas, tanya..
kalo ngasih tau, yang lengkap..
Jangan suka mengandai-andai seenaknya..
Jangan pikir orang lain pasti tau yang kamu maksud tanpa kamu harus kasih tau dengan lengkap..
Jangan pikir kamu tau yang orang lain maksud tanpa kamu dikasih tau dengan lengkap..
OK?
@MMC
I’m at MMC now…. along with St.Raphael trying to heal my Father.. I only have less than 2 days here. Hopefully it’s enough to do it… Sunday is the ‘decision day’… Hopefully what we do these 2 days will give a good effect for him.


